Cerita Aceh Kota Religi

Halo, Indonesia! Setelah sekian lama saya tidak memanfaatkan dengan efektif blog saya ini, maka saya putuskan mulai hari ini saya aktifkan kembali blog saya dengan konten cerita perjalanan dan kehidupan. Okay, saya akan mengawalinya dengan cerita perjalanan saya saat pertama kali terbang dengan pesawat.

Mungkin terdengar norak, tapi April lalu saya bersyukur ketika ditugaskan oleh kantor saya untuk melakukan peliputan ke daerah paling ujung bagian Indonesia. Ya, Aceh dan Sabang! Pertama, saya bisa merasakan naik pesawat. Kedua, perjalanan tersebut merupakan perjalanan terjauh yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya. Tapi, saya ke sana tidak sendiri dan bukan untuk traveling sepenuhnya. Saya harus melaksanakan tugas ke beberapa tujuan untuk mencari informasi mengenai transportasi yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Tentu saja, saya ke sana bersama dengan salah satu teman kerja saya dan klien dari Kemenhub.

Hal ini adalah bagian yang paling saya suka menjadi seorang jurnalis. Jalan-jalan! Percaya atau tidak, dari dulu saya memang bercita-cita untuk menjadi seorang jurnalis karena ingin jalan-jalan keliling Indonesia dan dunia. Paling tidak, saya bisa mencicipi kawasan Indonesia terlebih dahulu sebelum ‘Dewi Fortuna’ berpihak pada saya untuk menikmati budaya luar.

Di blog ini, sebisa mungkin saya tidak bercerita banyak mengenai detail sistem transportasi di Aceh. Saya ingin bercerita seputar tempat-tempat wisata, kuliner dan budaya di sana. Terlalu serius sepertinya untuk bercerita seputar otonomi daerah. Hehehehe… Tetapi akan saya ulas sedikit mengenai transportasi khas di sana.

Sebelum menapaki tanah rencong (Aceh), yang ada di pikiran saya adalah sebuah provinsi yang sangat religius sekali, memiliki cuaca yang panas, dan Pulau Weh yang indah! Ah, sempat deg-degan saya ketika ditugaskan ke sana. Deg-degan bukan perkara pertama kali naik pesawat, melainkan ketika saya searching seputar budaya di sana yang begitu kental agama Islamnya, hingga ada salah satu aturan kalau ke sana tidak boleh menggunakan celana jeans. Iya, celana jeans! Pakai baju harus panjang, dan sebagainya. Karena, di sana ternyata ada razia pakaian untuk kaum wanita. Ini unik menurut saya. Saya yang berhijab pun mungkin bisa dihitung berapa pakaian panjang yang saya miliki.

Dari packing, yang saya pikirkan hanyalah “Pakai baju yang mana yah???”. Itu saja yang saya pikirkan. Alhasil, saya bawa beberapa jaket parka saya yang lumayan tebal (bisa kebayang gerahnya) hehehe… Hmm baiklah, intinya dengan adanya peraturan seperti itu merupakan salah satu hal yang unik di Aceh yang notabene adalah kota religius. Sebenarnya, kalau melihat destinasi wisata di Banda Aceh memang rata-rata tempat wisatanya cenderung baru pasca terjadinya musibah tsunami. Sebut saja Museum Tsunami Aceh, Boat Gampong Lampulo, PLTD Apung, dan sebagainya.

Oiya, sampai lupa. Kesan pertama lainnya ketika menginjakkan kaki di Aceh adalah merinding. Ya, merinding karena membayangkan kembali peristiwa beberapa belas tahun silam, dimana satu kota terendam air lumpur dari pantai, tsunami. Apalagi mendengar cerita dari driver kami, Pak Jufri yang menceritakan beberapa kisah kejadian tsunami dan perubahan kota pasca tsunami. Selain itu, Pak Jufri juga menceritakan cerita tentang hotel yang kami inap, yaitu Hotel Gr*nd Perm*t* H*ti, Banda Aceh. Memang bangunannya baru. Namun, cerita yang saya dengar, hotel tersebut tadinya bekas rumah sakit. Dan, pada peristiwa tsunami terjadi, banyak korban yang tidak selamat dijejerkan di depan hotel tersebut. Merinding. Merinding ketika membayangkannya. Satu kota menangis. Ada yang mencari keluarganya, ada yang mendapati keluarga tanpa nyawa, miris.

Ah sudahlah, saya tidak ingin membuat kalian teriris-iris membaca tulisan dengan penuh kesedihan. Tapi, saya akan mengajak para pembaca blog saya untuk bangga dengan Indonesia! (lalu suara riuh tepuk tangan beriringan). Guys, ini hanya intro dari cerita saya tentang Aceh, tapi hampir dua lembar di Ms. Words. Baiklah, saya akan mulai bercerita tentang destinasi wisata di Banda Aceh, tapi di postingan selanjutnya! Hehehehe…

 

(To be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s