FOODIES

Cerita di Kedai Kopi Solong Ulee Kareng

Di postingan sebelumnya saya udah janji mau cerita sedikit soal kopi Aceh. Kalau kamu ketik keyword kopi Aceh di Google, pasti akan muncul berbagai artikel mengenai kopi Aceh. Julukan Aceh sebagai ‘Kota Seribu Kopi’ menurut saya sih benar banget! Ya, karena saya sendiri pun melihat kalau kopi Aceh itu banyak banget brand-nya.

Tapi, ada satu kopi yang menarik perhatian saya, yaitu Kopi Solong Ulee Kareng. Saya memang nggak begitu paham dengan jenis-jenis kopi secara detail, saya hanya penikmat kopi biasa yang mengagumi cita rasanya. Hehehehe… Baiklah, saya akan mengulas mengenai Kopi Solong. Selesai makan dari Mie Aceh Razali, kami ingin mencari kedai kopi favorit bagi masyarakat Aceh. Pilihan jatuh ke Kedai Kopi Solong di daerah Ulee Kareng. Kedai kopi tersebut selalu ramai pengunjung.

Sample biji kopiarabica premium di Kedai Kopi Solong

Sample biji kopi arabica premium di Kedai Kopi Solong

Seingat saya, waktu itu saya memesan kopi arabica. Sebenarnya masih banyak pilihan lain. Semua kopi yang disajikan di Kedai Kopi Solong ini adalah biji kopi olahan sendiri. Jadi, mulai memetik, memilih, roasting, dan sebagainya adalah pure bikinan sendiri. Sambil menunggu pesanan kami datang, saya mencicipi hidangan roti isi selai srikaya buatan kedai tersebut. Asli, roti srikaya ter-enak yang pernah saya rasakan! Rotinya lembut sekali, selai srikayanya pun sangat lembut dan tidak terlalu manis selainya. Ah, enak sekali!

Akhirnya, kopi pesanan kami pun datang. Secangkir kopi hitam panas yang tidak terlalu manis dan tanpa ampas tersebut ku seruput dengan nikmat. Tidak lupa ditemani dengan roti srikaya untuk porsi kedua. Maaf, tidak bermaksud untuk rakus, hanya ketagihan. Hehehehe… Kopi Solong benar-benar tidak ada ampas sedikit pun. Bagaimana tidak, kopinya saja dibuat dengan disaring hingga beberapa tarikan. Oiya, saya mengunjungi ke Kedai Kopi Solong Ulee Kareng sampai dua kali saking enaknya. Tetap ramai pengunjung dari berbagai kalangan. Kunjungan yang kedua, saya bertemu dengan pemiliknya, Pak Nawawi namanya dan kami sempat ngobrol-ngobrol sedikit tentang Kopi Solong.

(kiri) Teman saya, Pak Nawawi dan saya di Kedai Kopi Solong

(kiri) Teman saya, Pak Nawawi dan saya di Kedai Kopi Solong

Jadi, Kopi Solong merupakan warisan turun-temurun berawal dari warung biasa sejak tahun 1976 dan berkembang sejak 1982. Karena lokasinya memang dekat dengan kampus, jadi banyak para pelajar yang pulang kuliah untuk mampir ke kedai kopi. Kopi Solong memang terkenal enak karena biji kopi pilihannya. Diakui oleh sang pemilik Kedai Kopi Solong bahwa tidak diragukan karena sang bapak adalah petani. Maka, tidak heran jika biji kopi yang dipilih sangatlah tepat. Nama Solong pun sebenarnya adalah nama panggilan sang ayah ketika bekerja dengan orang China.

Jadi, memang tidak dipungkiri bahwa Kopi Solong memang enak. Di kedai ternyata tidak hanya menjual kopi yang diseduh, melainkan juga menjual biji kopi dan kopi roasted produk Kopi Solong. Kalau tidak salah untuk harga Kopi Solong yang Robusta 250 gram sekitar Rp 27 ribu – Rp 35 ribu (saya lupa). Untuk jenis kopi arabica premium 250 gram seharga Rp 70 ribu. Saya beli keduanya untuk oleh-oleh di rumah. Oiya, untuk harga menu di Kedai Kopi Solong juga tidak mahal. Harga kopi dibanderol mulai dari sekitar Rp 7 ribu.

Peracik kopi di Kedai Kopi Solong

Peracik kopi di Kedai Kopi Solong

Menurut saya, kalau kalian pergi ke Banda Aceh jangan lupa untuk mencicipi cita rasa kopi Aceh ya! Di mana pun kedainya. Tapi, berhubung saya mencicipinya di Kedai Kopi Solong Ulee Kareng sampai dua kali, jadi saya rekomendasikan bagi para traveler penikmat kopi untuk mencicipinya. Karena, kopinya sudah terkenal dan beberapa public figure pun sempat mampir ke kedai tersebut.

Oiya, dengar-dengar beberapa biji kopi Aceh ada yang dibawa ke Medan dan dijual di sana. Kopi Sidikalang beberapa diantaranya dibuat dari biji kopi Aceh. Apakah itu benar? Mungkin jika kalian ada yang tahu kebenarannya bisa share di kolom komentar ya…

 

Happy reading, all!

 

Pertama Kali Makan Mie Aceh dan Ketagihan!

Setelah sebelumnya saya cerita tentang makanan khas Aceh di Rumah Makan Hasan, saya mau intermezzo sedikit mengenai perjalanan setelah makan siang dari tempat tersebut. Di jalan, saya masih bisa ngobrol sambil tertawa saat menuju hotel. Namun, tidak lama saya mendapati pesan singkat melalui Blackberry Messenger yang mengatakan bahwa saudara saya telah tiada. Masih tidak menyangka, ternyata beberapa bulan sebelumnya adalah pertemuan terakhir kami dan beberapa minggu lalu adalah percakapan terakhir via Facebook. Ia meninggal pasca melahirkan anak ketiganya. Saya tidak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya karena masih bertugas di Aceh. Hanya bisa mengirimkan doa semoga dilapangkan tempat di sana.

Baiklah, saya sudahi intermezzonya. Kali ini saya masih ingin bercerita seputar kuliner di Aceh. Sesampainya di penginapan, kami beristirahat untuk beberapa jam. Setelah itu, kami pergi keluar untuk menikmati kuliner malam di Banda Aceh. Kami putuskan untuk mencicipi kuliner yang juga salah satu ‘You Must Try It’ di Banda Aceh, yaitu Mie Aceh Razali. Baru parkir mobil saja sudah terlihat ramainya rumah makan tersebut. Bagaimana tidak, Mie Aceh Razali dikenal karena memiliki cita rasa yang khas turun-temurun. Bahkan, teman saya yang asli Aceh sampai cerita bahwa tantenya jika berkunjung ke Aceh selalu membeli bumbu mie Aceh tersebut, lho!

Mie Razali di Peunayong, Banda Aceh

Mie Razali di Peunayong, Banda Aceh

Ternyata kata ‘enak’ yang diungkapkan oleh para food blogger tentang Mie Aceh Razali memang tidak mengada-ngada. Benar-benar enak! Seingat saya, waktu itu saya memesan mie Aceh seafood cumi. Rasanya enak, porsinya lumayan besar dan harganya pun terjangkau! Rasa rempahnya melekat pada bumbu mie Aceh. Tidak heran kalau Mie Aceh Razali tidak pernah sepi pengunjung. Setahu saya, Mie Aceh Razali ini hanya ada dua outlet saja dan hanya ada di Banda Aceh. Waktu itu saya mencicipinya yang berada di Peunayong, Banda Aceh. Selain masakannya yang enak, yang paling penting adalah pelayanannya yang begitu ramah dan cepat.

Mie Razali seafood cumi

Mie Razali seafood cumi

Jujur, ini adalah pertama kalinya saya mencicipi mie Aceh langsung dari Aceh. Sejak mencicipinya, saya jadi suka dengan mie Aceh. Biasanya kalau saya lagi kangen mie Aceh, saya makan di dekat rumah, yaitu di Mie Aceh Cut Putroe Radio Dalam atau di Mie Aceh Jali Jali di terminal Blok M. Soal rasa memang jauh berbeda, tapi lumayanlah untuk mengobati rasa rindu di Tanah Rencong. Berbicara mengenai kuliner khas Aceh memang tidak jauh-jauh dari bumbu rempah dan minyak. Sampai saya berpikir pulang-pulang dari Aceh bisa kolesterol nih karena terlalu menikmati hidangan Aceh. Hehehehe… Tapi, kamu emang benar-benar harus mencicipi kuliner khas daerah yang kamu kunjungi, lho!

Oiya, selain makanannya yang khas, Aceh juga dikenal sebagai kota seribu jenis kopi. Saya akan bercerita sedikit soal kopi Aceh. Tapi, sabar dulu ya! Saya akan membahas soal kopi Aceh pada postingan berikutnya!

Happy reading, all!

 

(Baca juga : Cerita di Kedai Kopi Solong Ulee Kareng)

Masakan Khas Aceh di Rumah Makan Hasan

Setelah panjang lebar menulis intro tentang cerita pengalaman perjalanan di Aceh, melalui tulisan ini akan saya mulai dengan mencicipi kuliner khas Aceh di Rumah Makan Hasan. Saya, teman saya dan klien saya rehat sejenak setelah melakukan wawancara di Dinas Perhubungan Banda Aceh. Saat jam makan siang, kami diajak ke tempat makan tersebut oleh Pak Faisal (Kabid Perhubungan Laut Banda Aceh).

Saya tahu rumah makan tersebut dari beberapa situs blog yang saya baca sebelum berangkat ke Aceh. Rumah Makan Hasan adalah salah satu kuliner yang ‘You Must Try It’ di Banda Aceh. Saya lupa nama-nama menu yang dipesan. Yang jelas, cara penyajian makanannya tidak jauh berbeda ketika kita makan di rumah makan Padang. Semua makanan disajikan di meja, kita tinggal pilih lauk mana yang ingin disantap. Kesannya? Menggoda! Meski ada rasa cemas karena melihat racikan bumbu yang terbayang adalah kolesterol. Sebenarnya, kalau melihat masakan Aceh memang tidak jauh-jauh dengan rasa rempah, pedas, dan minyak. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa masakan Aceh hampir serupa dengan sajian masakan Padang.

dsc_0309

Masakan Khas Aceh di Rumah Makan Hasan

Waktu itu yang disajikan di meja ada gulai kambing, gulai ikan, ayam tangkap, gulai pisang (What?! Pisang? Digulai?) sajian ikan, sambal, sayuran seperti urap, dan sebagainya. Maaf kalau saya lupa mencatat nama-nama masakannya. Saya tidak asing dengan menu ayam tangkap, karena di Jakarta pun ada. Namun, sayangnya saya tahu nama, tapi tidak tahu bentuknya. So, for the first time i saw ayam tangkap in Rumah Makan Hasan. Ternyata, ayam tangkap adalah ayam goreng yang disajikan dengan daun (saya lupa namanya daun apa) yang digoreng pula sehingga kalau dimakan mengeluarkan irama krenyes-krenyes.

Aneka menu di Rumah Makan Hasan

Aneka menu di Rumah Makan Hasan

Setelah mencicipi, saya bertanya “Pak, kenapa ayam tangkap? Kenapa, Pak? Dan banyak dedaunan gini? Apanya yang ditangkap, Pak?”, tanya saya. Tak lama, Pak Jufri driver sewaan kami pun menjawab, “Ayam ini sengaja disajikan dengan dedaunan dan tidak terlihat ayamnya. Sehingga, kita mencari ayamnya. Kalau ketemu, ditangkap deh… Hap!,” jawabnya. (What the?!) But, it’s ok! Mungkin, kalian punya cerita lain tentang asal-muasal atau mitos dari nama kuliner ayam tangkap ini?

dsc_0306

Ayam Tangkap di Rumah Makan Hasan

Tapi yang pasti, kalian wajib mampir ke Rumah Makan Hasan kalau traveling ke Banda Aceh. Mungkin makanan unik lainnya menurut saya adalah gulai pisang. Aneh sih waktu dikasih tahu kalau itu adalah gulai pisang. Dan pisangnya pun nggak terlihat seperti potongan pisang. Kata klien saya yang mencicipinya terlebih dahulu sih enak. Lalu, saya pun disuruh mencicipinya, meski nggak akan kebayang gimana rasanya. Tapi, saya tetap penasaran dengan cita rasa gulai pisang tersebut. Demi apapun, alhasil saya mencicipinya. Dan……. Teksturnya seperti pisang rebus. Bedanya, ini jauh lebih gurih karena menggunakan adonan gulai. Hmm… Not bad! Meskipun saya hanya sekali makan gulai pisangnya.

Setelah makan menu utama, kami disuguhkan potongan buah-buahan. Uniknya, di piring buah-buahan tersebut dicampur dengan es batu. Hmm… Mungkin hal itu dilakukan supaya buah tetap segar. Untuk minumannya, saya memesan es teh manis. Namun, orang Aceh lebih suka menyebutnya teh dingin. Entah, mungkin karena ingin lebih singkat. Hehehehe…

Sebelum berpisah, kami foto bersama dengan Pak Faisal karena sudah menjamu dengan kami

Sebelum berpisah, kami foto bersama dengan Pak Faisal

Oiya, cerita tentang perjalanan di Aceh masih berlanjut di postingan berikutnya, ya! Semoga dari postingan ini dapat memberikan informasi bagi para pembaca. Happy reading, all!