TRAVEL

Goes To Bali! Halo, Tanah Lot!

Akhirnya, setelah sebulan lebih nggak posting konten blog, seperti biasa mood untuk menulis muncul di tengah malam. Sebenarnya ada beberapa konten yang ingin saya posting. Yang Aceh saja belum selesai. Tapi,  saya skip dulu cerita soal Aceh Saya selingi cerita waktu sayadi Bali, ya.

Jadi, akhir Januari lalu saya dan seluruh pegawai kantor melakukan outing ke Bali. Bener-bener pure outing dan nggak ada bumbu-bumbu pekerjaan. (Hihihi). Kami take off Jumat setelah subuh. Sepertinya saya nggak perlu mengulas harga tiket pesawat menuju ke sana kali ya. Saya percaya kalau kalian jauh lebih handal dalam mencari tiket pesawat yang super promo. Secara agen travel sekarang banyak yang menawarkan tiket promo Jakarta – Bali.

Pesawat kami landing di Ngurah Rai International Airport sekitar jam 8 pagi. Sesampainya di sana, kami langsung menuju destinasi pertama kami, yaitu Tanah Lot. Satu jam lebih kami menempuh perjalanan. Selama perjalanan, kami mencari masjid yang searah dengan Tanah Lot. Mungkin beberapa terlelap dalam perjalanan (termasuk saya), sehingga tidak ada yang sadar memantau keberadaan masjid. Saat kami sadar, ternyata masjidnya terlewat. Akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari masjid di sekitar sana.

Sampailah kami di area Tanah Lot. Kami mencoba mengunjungi pos polisi di sana untuk menanyakan keberadaan masjid, karena rekan kantor saya ingin menunaikan Sholat Jumat. Berharap akan ada masjid di sekitar Tanah Lot, ternyata masjidnya sudah terlewat jauh. Waktu pun juga tidak memungkinkan untuk kembali lagi ke desa yang terdapat masjid tersebut. Akhirnya, kami melanjutkan destinasi kami, namun tetap menunaikan Sholat Zuhur. Sorry, bukannya mau sok religius, menurut saya ini adalah bagian dari budaya di Bali bahwa memang kaum muslim di Bali minoritas dan masjid pun juga jarang di sana. Sekalinya ada, jaraknya pun tidak berdekatan satu sama lain. Namun, kalau mushola masih tersedia di area Tanah Lot.

Debur ombak di Tanah Lot

Duh, sorry ya ini intermezzo sampai tiga paragraf gini. Oke, saya akan membahas wisata Tanah Lot. Sebenarnya, Tanah Lot adalah destinasi wisata yang sangat mainstream untuk para wisatawan. Saya pun juga sudah pernah ke sini saat SMA. Bedanya, dulu nggak punya kamera untuk mengabadikan momen di sini. Kalau buat traveler, pasti udah khatam sama tempat ini.  Justru mereka lebih suka ke hidden place di Bali.

Tanah Lot memang bagus untuk berfoto. Di sana banyak yang bisa dijadikan objek foto, terutama human interest. Oiya, di sana juga ada Ular Suci (Holy Snake). Tepatnya berada di dalam gua. Kamu bisa melihatnya dan jangan lupa untuk menyisihkan uang di kotak pelestarian. Saya tidak melihat ke dalam, saya akui kalau saya takut ular.

Gua Ular Suci di Tanah Lot

Setelah banyak melakukan pemotretan di sana, kami melanjutkan perjalanan kami masih di hari yang sama. Tidak begitu banyak spot yang menarik. Justru saya lebih tertarik pada area jalan kios-kios di Tanah Lot. Cuaca hari itu panas. Jalan area kios dipayungi pepohonan yang rindang. Pancaran sinar matahari bikin efek yang bagus kalau dilihat. Dan satu lagi, saya lebih tertarik melihat orang Bali asli yang sedang memakai pakaian berwarna putih, sarung kotak-kotak dan udeng. Kebetulan mereka dengan keluarganya ingin melakukan sembahyang.

Salah satu keluarga asli Bali yang ingin sembahyang di Tanah Lot

 

Pura di Tanah Lot

Dari Tanah Lot, kami melanjutkan perjalanan ke Ulundanu, Bedugul. Puncaknya Bali kalau menurut saya. Karena kawasan tersebut berada di dataran tinggi. Mengenai Ulundanu, akan saya posting pada tulisan berikutnya. Happy reading!

Cerita Aceh Kota Religi

Halo, Indonesia! Setelah sekian lama saya tidak memanfaatkan dengan efektif blog saya ini, maka saya putuskan mulai hari ini saya aktifkan kembali blog saya dengan konten cerita perjalanan dan kehidupan. Okay, saya akan mengawalinya dengan cerita perjalanan saya saat pertama kali terbang dengan pesawat.

Mungkin terdengar norak, tapi April lalu saya bersyukur ketika ditugaskan oleh kantor saya untuk melakukan peliputan ke daerah paling ujung bagian Indonesia. Ya, Aceh dan Sabang! Pertama, saya bisa merasakan naik pesawat. Kedua, perjalanan tersebut merupakan perjalanan terjauh yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya. Tapi, saya ke sana tidak sendiri dan bukan untuk traveling sepenuhnya. Saya harus melaksanakan tugas ke beberapa tujuan untuk mencari informasi mengenai transportasi yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Tentu saja, saya ke sana bersama dengan salah satu teman kerja saya dan klien dari Kemenhub.

Hal ini adalah bagian yang paling saya suka menjadi seorang jurnalis. Jalan-jalan! Percaya atau tidak, dari dulu saya memang bercita-cita untuk menjadi seorang jurnalis karena ingin jalan-jalan keliling Indonesia dan dunia. Paling tidak, saya bisa mencicipi kawasan Indonesia terlebih dahulu sebelum ‘Dewi Fortuna’ berpihak pada saya untuk menikmati budaya luar.

Di blog ini, sebisa mungkin saya tidak bercerita banyak mengenai detail sistem transportasi di Aceh. Saya ingin bercerita seputar tempat-tempat wisata, kuliner dan budaya di sana. Terlalu serius sepertinya untuk bercerita seputar otonomi daerah. Hehehehe… Tetapi akan saya ulas sedikit mengenai transportasi khas di sana.

Sebelum menapaki tanah rencong (Aceh), yang ada di pikiran saya adalah sebuah provinsi yang sangat religius sekali, memiliki cuaca yang panas, dan Pulau Weh yang indah! Ah, sempat deg-degan saya ketika ditugaskan ke sana. Deg-degan bukan perkara pertama kali naik pesawat, melainkan ketika saya searching seputar budaya di sana yang begitu kental agama Islamnya, hingga ada salah satu aturan kalau ke sana tidak boleh menggunakan celana jeans. Iya, celana jeans! Pakai baju harus panjang, dan sebagainya. Karena, di sana ternyata ada razia pakaian untuk kaum wanita. Ini unik menurut saya. Saya yang berhijab pun mungkin bisa dihitung berapa pakaian panjang yang saya miliki.

Dari packing, yang saya pikirkan hanyalah “Pakai baju yang mana yah???”. Itu saja yang saya pikirkan. Alhasil, saya bawa beberapa jaket parka saya yang lumayan tebal (bisa kebayang gerahnya) hehehe… Hmm baiklah, intinya dengan adanya peraturan seperti itu merupakan salah satu hal yang unik di Aceh yang notabene adalah kota religius. Sebenarnya, kalau melihat destinasi wisata di Banda Aceh memang rata-rata tempat wisatanya cenderung baru pasca terjadinya musibah tsunami. Sebut saja Museum Tsunami Aceh, Boat Gampong Lampulo, PLTD Apung, dan sebagainya.

Oiya, sampai lupa. Kesan pertama lainnya ketika menginjakkan kaki di Aceh adalah merinding. Ya, merinding karena membayangkan kembali peristiwa beberapa belas tahun silam, dimana satu kota terendam air lumpur dari pantai, tsunami. Apalagi mendengar cerita dari driver kami, Pak Jufri yang menceritakan beberapa kisah kejadian tsunami dan perubahan kota pasca tsunami. Selain itu, Pak Jufri juga menceritakan cerita tentang hotel yang kami inap, yaitu Hotel Gr*nd Perm*t* H*ti, Banda Aceh. Memang bangunannya baru. Namun, cerita yang saya dengar, hotel tersebut tadinya bekas rumah sakit. Dan, pada peristiwa tsunami terjadi, banyak korban yang tidak selamat dijejerkan di depan hotel tersebut. Merinding. Merinding ketika membayangkannya. Satu kota menangis. Ada yang mencari keluarganya, ada yang mendapati keluarga tanpa nyawa, miris.

Ah sudahlah, saya tidak ingin membuat kalian teriris-iris membaca tulisan dengan penuh kesedihan. Tapi, saya akan mengajak para pembaca blog saya untuk bangga dengan Indonesia! (lalu suara riuh tepuk tangan beriringan). Guys, ini hanya intro dari cerita saya tentang Aceh, tapi hampir dua lembar di Ms. Words. Baiklah, saya akan mulai bercerita tentang destinasi wisata di Banda Aceh, tapi di postingan selanjutnya! Hehehehe…

 

(To be continued)