Basuki Tjahja Purnama

Uneg-Uneg Terima Kasih Untuk Pak Ahok

Pilkada memang sudah lewat dua hari lalu. Speechless sih liat hasil quick count-nya. Kayak nggak mau ditinggal. Tapi, Jakarta sudah memilih.  Tapi, di blog ini gue mau ceriwis aja untuk Pak Ahok. Semacam mengucapkan terima kasih yang cuma bisa gue sampaikan melalui blog gue sendiri.

Gue mau flashback dulu ke beberapa tahun silam waktu menggunakan hak pilih Pilkada DKI Jakarta. Selama tinggal di Jakarta, gue dua kali menggunakan hak pilih gue. Tahun 2012 dan tahun ini. Tahun 2012 jagoan gue kalah. Gue punya alasan kenapa gue pilih jagoan gue kala itu, yaitu lantaran dia independen. Mungkin temen-temen tau lah siapa. Tentu gue nggak memilih pasangan Jokowi dan Ahok. Iya, dulu gue nggak milih mereka. Karena, menurut gue dulu yang bener adalah yang nggak memihak dan dipihak manapun. Dan kala itu gue yakin jagoan gue bisa menang.

Tapi ternyata gue salah. Jokowi – Ahok memenangkannya. Sebelum menyambut kemenangan Jokowi – Ahok waktu itu (masih masa kampanye), for the first time i meet you dalam kegiatan buka puasa bersama di kawasan Pejompongan, Pak Ahok. Itu juga waktu zaman gue jadi anak magang di salah satu portal berita. Saat door stop, gue sempet nanya, “Gimana cara memberantas premanisme di Jakarta, Pak?”. Dengan lantang Bapak pun menjawab. Yang terlihat jelas adalah matanya saat menjawab pertanyaan itu. Meyakinkan. (dalam hati) “Ah, paling juga sama aja.”

Keadaan berubah, Jokowi naik jadi RI 1, Ahok menggantikan posisi Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta. Berbagai media massa nggak sedikit yang ngomongin soal Bapak yang satu itu, terutama soal sifatnya yang ‘pemarah’. Apalagi ketika melihat video marah-marahnya Pak Ahok di Youtube sama seorang ibu-ibu yang menyalahgunakan fungsi Kartu Jakarta Pintar (KJP). Dari situ sudah banyak stigma masyarakat tentang Pak Ahok. Ada yang pro ada yang kontra. Tapi, gue selama menjadi warga Jakarta kok gue ngerasa semakin ke sini, gue merasa ada beberapa hal yang berubah di Jakarta. Yaelah, gue mah apa sih nggak ngerti-ngerti amat soal politik. Cuma warga biasa yang bisa menikmati fasilitas yang dikasih sama Gubernur gue, antara lain armada TransJakarta yang baru, gue seneng banget koridornya jadi banyak, murah, praktis, meski memang sebagian adalah produk China yang sempat bikin Pak Ahok marah kenapa nggak pilih bus merk Eropa. Kemudian, tarif yang dikenakan murahnya pake banget! Hanya Rp 3500,- dari dulu harga nggak berubah bisa keliling Jakarta dan nggak kepanasan atau kena debu jalan.

Kejutan menarik lainnya buat gue adalah Balaikota dibuka untuk umum! Gue kira ini nggak bener infonya. Ternyata beneran. Dibuka untuk masyarakat umum setiap akhir pekan. Semua masyarakat DKI Jakarta, bahkan mungkin saja orang luar Jakarta pernah datang ke  wisata Balaikota. Enak. Bisa nyobain kursi rapatnya Pak Ahok. Selain itu, kita juga bisa mengunjungi Jakarta Smartcity, yang mana kita bisa lihat cara kerja pemantau aduan masyarakat melalui aplikasi Qlue. Di lantai yang sama juga ada co-working buat siapapun yang ingin gabung untuk membenahi Jakarta bisa menggunakan co-working tersebut. Berapa masuknya? Sama kayak masuk museum? Apa? Gratis kali!

Karena gue suka jalan-jalan ke ruang publik yang ada di Jakarta, ada lagi yang mengejutkan. Salah satu tempat prostitusi di Jakarta, yaitu Kalijodo entah menggunakan ilmu apa, seketika bisa menjadi ruang publik yang menurut gue keren banget. Damn! Gudang prostitusi seketika menjadi gudang prestasi. Kenapa gue bilang gudang prestasi? Karena, menurut gue lokasi tersebut banyak dikunjungi oleh para kawula muda dengan ragam aktivitas positif yang mereka lakukan, seperti olahraga skateboard, komunitas fotografi atau pun personal, dan sebagainya. Gue yakin semua itu merupakan kegiatan yang memiliki peluang dan menggali potensi yang dimiliki oleh warga di bidang olahraga atau kreatifitas. Gue datang ke sana baru satu kali. Kesan pertama gue cuma bisa bilang, “Keren!” meski memang masih gersang, but i still love about that place.

Mungkin Kalijodo Skatepark bukanlah terobosan Pak Ahok yang pertama. Masih banyak hal yang dikerjakan oleh Pak Ahok selama ia menjadi Gubernur DKI Jakarta. Belakangan ini, gue pun mengetahui tempat yang artsy dan belum sempat gue kunjungi, yaitu Jakarta Creative Hub. Bukan soal artsy-nya sih, tapi soal fungsinya yang memberikan peluang usaha bagi UKM atau start up di Jakarta.  Gila. Ya gila aja. Tatapannya yang tajam dan omongannya yang meyakinkan itu ternyata ya ada hasil kerjanya. Yang gue tulis ini mah nggak seberapa. Masih banyak dan banyak yang dia lakukan untuk Jakarta yang lebih baik.

Memasuki momen Pilkada akhir-akhir ini membuat gue geleng-geleng kepala. Nggak ngerti gue kenapa tiba-tiba banyak orang-orang yang heboh ngomongin dosa lah, neraka lah. Dosa dan neraka seolah-olah milik warga DKI Jakarta yang memilih paslon non-muslim. Astaghfirullah…. Gampang banget kepancing sama isu SARA yang bisa bikin lo sama sodara lo berantem.

Jujur, sebelumnya gue nggak sampe sebegininya banget sampe nulis diblog soal Pak Ahok atau pemimpin lainnya. Gue bukan tipikal orang yang suka dengan politik. Tapi, entah kenapa gue seperti merasa ada yang hilang. Ada yang kurang dan bikin deg-degan. Semacam ragu. Banyak yang bilang “kita liat aja nanti”.  Oiya, tulisan ini sekali lagi gue buat sebagai uneg-uneg gue dalam rangka mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Pak Ahok dan pandangan gue tentang ‘pernak-pernik’ Pilkada DKI Jakarta.

Secercah harapan pun gue inginkan mereka untuk menyelesaikan beberapa tugas yang belum terselesaikan dan menanti adanya gebrakan inovasi baru dan kesejahteraan masyarakat Jakarta yang baru. Ternyata, pilihan gue kalah (lagi) di putaran kedua. Kali ini, gue memilih punya alasan yang memang gue rasakan sebagai warga Jakarta. Gue memilih pasangan tersebut nggak pakai alasan yang terlalu ngoyo sih sebenernya. Gue pilih mereka karena gue merasakan fasilitas yang diberikan dan melihat cara kerja Pak Ahok yang baru sampai di Balaikota sudah disambut beberapa warga Jakarta yang menyampaikan aduan langsung terkait dengan keluhan mereka. Gue melihatnya di Youtube. Ini hanya salah satu contohnya saja. Ada kelanjutannya juga kok. Klik di sini.

Ini adalah pertama kalinya gue melihat hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta sampai kayak begini. Terjerat kasus penistaan agama, kelompok agama yang menggelar aksi, tapi ada aja yang merendahkan profesi jurnalis saat menjalankan pekerjaannya. Sedih. Asli, sedih. Miris aja ngeliatnya. Beberapa tokoh inspiratif yang tadinya benar-benar mengispirasi anak muda, seperti salah satu standup comedian juga tiba-tiba berubah dan bikin artikel yang menurut gue dan beberapa netizen lain artikelnya menyesatkan nalar. Politik. Mana yang kuat, dia yang berkuasa. Gue ucapkan selamat untuk Gubernur DKI Jakarta terpilih. Gue harap teman-teman juga ikut mengawal program-program mereka yang pernah diusung saat kampanye dan semoga bisa terealisasikan dengan baik. Bagi yang memilih dengan alasan karena takut masuk neraka, coba diinget lagi, berapa banyak lo membantu, menghargai dan senyum terhadap orang lain dalam sehari?

Pak Ahok, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak. Bapak adalah pelayan (masyarakat) yang paling mengerti apa kebutuhan majikannya (masyarakat). Saya yakin, akan ada garis cerita baru di kemudian hari untuk berbuat baik pada orang banyak, Pak. Semoga Pak Ahok senantiasa sehat selalu dan tetap menjadi pribadi yang tegas, bijaksana dan adil dalam keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Jakarta, 21 April 2017

Salam,

Mantan Majikan Pak Ahok

Advertisements