Fiksi

Rindu

Rinduku yang terpendam memakan waktu, tidak disangka terobati malam ini. Di kedai kopi sederhana, melalui ketidaksengajaan aku melihat sosok yang kurindu. Ku yakinkan bahwa itu kamu, rindu. Ku yakinkan kembali seruput demi seruput kopi yang ku pesan. Ya, aku semakin yakin bahwa itu kamu. Aku terlalu naif dan pengecut. Tak berani ku tatap mata rindu. Meski sesekali ku sempatkan ekor mataku melirik ke arahmu untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Hingga akhirnya ku beranikan diri untuk menyapamu melalui pesan singkat saat kamu beranjak dari kedai kopi itu.

Ku pastikan bahwa aku sedang merindu. Ya, aku rindu. Mana mungkin dalam seminggu kamu hadir dalam buah tidurku sebanyak dua kali? Seperti sedang mengonsumsi resep dokter. Aku berharap itu hanya ketidaksengajaan Tuhan. Namun, ketidaksengajaann-Nya saja membuat hati ini rindu padamu. Atas ketidaksengajaan itu pula Tuhan menjawab akhir dari kerinduan ini.

Terima kasih, Tuhan… Rinduku terbayar.

 

Jakarta, 3 Maret 2017

Filosofi Kopi

 

Advertisements