Uneg-Uneg Terima Kasih Untuk Pak Ahok

Pilkada memang sudah lewat dua hari lalu. Speechless sih liat hasil quick count-nya. Kayak nggak mau ditinggal. Tapi, Jakarta sudah memilih.  Tapi, di blog ini gue mau ceriwis aja untuk Pak Ahok. Semacam mengucapkan terima kasih yang cuma bisa gue sampaikan melalui blog gue sendiri.

Gue mau flashback dulu ke beberapa tahun silam waktu menggunakan hak pilih Pilkada DKI Jakarta. Selama tinggal di Jakarta, gue dua kali menggunakan hak pilih gue. Tahun 2012 dan tahun ini. Tahun 2012 jagoan gue kalah. Gue punya alasan kenapa gue pilih jagoan gue kala itu, yaitu lantaran dia independen. Mungkin temen-temen tau lah siapa. Tentu gue nggak memilih pasangan Jokowi dan Ahok. Iya, dulu gue nggak milih mereka. Karena, menurut gue dulu yang bener adalah yang nggak memihak dan dipihak manapun. Dan kala itu gue yakin jagoan gue bisa menang.

Tapi ternyata gue salah. Jokowi – Ahok memenangkannya. Sebelum menyambut kemenangan Jokowi – Ahok waktu itu (masih masa kampanye), for the first time i meet you dalam kegiatan buka puasa bersama di kawasan Pejompongan, Pak Ahok. Itu juga waktu zaman gue jadi anak magang di salah satu portal berita. Saat door stop, gue sempet nanya, “Gimana cara memberantas premanisme di Jakarta, Pak?”. Dengan lantang Bapak pun menjawab. Yang terlihat jelas adalah matanya saat menjawab pertanyaan itu. Meyakinkan. (dalam hati) “Ah, paling juga sama aja.”

Keadaan berubah, Jokowi naik jadi RI 1, Ahok menggantikan posisi Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta. Berbagai media massa nggak sedikit yang ngomongin soal Bapak yang satu itu, terutama soal sifatnya yang ‘pemarah’. Apalagi ketika melihat video marah-marahnya Pak Ahok di Youtube sama seorang ibu-ibu yang menyalahgunakan fungsi Kartu Jakarta Pintar (KJP). Dari situ sudah banyak stigma masyarakat tentang Pak Ahok. Ada yang pro ada yang kontra. Tapi, gue selama menjadi warga Jakarta kok gue ngerasa semakin ke sini, gue merasa ada beberapa hal yang berubah di Jakarta. Yaelah, gue mah apa sih nggak ngerti-ngerti amat soal politik. Cuma warga biasa yang bisa menikmati fasilitas yang dikasih sama Gubernur gue, antara lain armada TransJakarta yang baru, gue seneng banget koridornya jadi banyak, murah, praktis, meski memang sebagian adalah produk China yang sempat bikin Pak Ahok marah kenapa nggak pilih bus merk Eropa. Kemudian, tarif yang dikenakan murahnya pake banget! Hanya Rp 3500,- dari dulu harga nggak berubah bisa keliling Jakarta dan nggak kepanasan atau kena debu jalan.

Kejutan menarik lainnya buat gue adalah Balaikota dibuka untuk umum! Gue kira ini nggak bener infonya. Ternyata beneran. Dibuka untuk masyarakat umum setiap akhir pekan. Semua masyarakat DKI Jakarta, bahkan mungkin saja orang luar Jakarta pernah datang ke  wisata Balaikota. Enak. Bisa nyobain kursi rapatnya Pak Ahok. Selain itu, kita juga bisa mengunjungi Jakarta Smartcity, yang mana kita bisa lihat cara kerja pemantau aduan masyarakat melalui aplikasi Qlue. Di lantai yang sama juga ada co-working buat siapapun yang ingin gabung untuk membenahi Jakarta bisa menggunakan co-working tersebut. Berapa masuknya? Sama kayak masuk museum? Apa? Gratis kali!

Karena gue suka jalan-jalan ke ruang publik yang ada di Jakarta, ada lagi yang mengejutkan. Salah satu tempat prostitusi di Jakarta, yaitu Kalijodo entah menggunakan ilmu apa, seketika bisa menjadi ruang publik yang menurut gue keren banget. Damn! Gudang prostitusi seketika menjadi gudang prestasi. Kenapa gue bilang gudang prestasi? Karena, menurut gue lokasi tersebut banyak dikunjungi oleh para kawula muda dengan ragam aktivitas positif yang mereka lakukan, seperti olahraga skateboard, komunitas fotografi atau pun personal, dan sebagainya. Gue yakin semua itu merupakan kegiatan yang memiliki peluang dan menggali potensi yang dimiliki oleh warga di bidang olahraga atau kreatifitas. Gue datang ke sana baru satu kali. Kesan pertama gue cuma bisa bilang, “Keren!” meski memang masih gersang, but i still love about that place.

Mungkin Kalijodo Skatepark bukanlah terobosan Pak Ahok yang pertama. Masih banyak hal yang dikerjakan oleh Pak Ahok selama ia menjadi Gubernur DKI Jakarta. Belakangan ini, gue pun mengetahui tempat yang artsy dan belum sempat gue kunjungi, yaitu Jakarta Creative Hub. Bukan soal artsy-nya sih, tapi soal fungsinya yang memberikan peluang usaha bagi UKM atau start up di Jakarta.  Gila. Ya gila aja. Tatapannya yang tajam dan omongannya yang meyakinkan itu ternyata ya ada hasil kerjanya. Yang gue tulis ini mah nggak seberapa. Masih banyak dan banyak yang dia lakukan untuk Jakarta yang lebih baik.

Memasuki momen Pilkada akhir-akhir ini membuat gue geleng-geleng kepala. Nggak ngerti gue kenapa tiba-tiba banyak orang-orang yang heboh ngomongin dosa lah, neraka lah. Dosa dan neraka seolah-olah milik warga DKI Jakarta yang memilih paslon non-muslim. Astaghfirullah…. Gampang banget kepancing sama isu SARA yang bisa bikin lo sama sodara lo berantem.

Jujur, sebelumnya gue nggak sampe sebegininya banget sampe nulis diblog soal Pak Ahok atau pemimpin lainnya. Gue bukan tipikal orang yang suka dengan politik. Tapi, entah kenapa gue seperti merasa ada yang hilang. Ada yang kurang dan bikin deg-degan. Semacam ragu. Banyak yang bilang “kita liat aja nanti”.  Oiya, tulisan ini sekali lagi gue buat sebagai uneg-uneg gue dalam rangka mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Pak Ahok dan pandangan gue tentang ‘pernak-pernik’ Pilkada DKI Jakarta.

Secercah harapan pun gue inginkan mereka untuk menyelesaikan beberapa tugas yang belum terselesaikan dan menanti adanya gebrakan inovasi baru dan kesejahteraan masyarakat Jakarta yang baru. Ternyata, pilihan gue kalah (lagi) di putaran kedua. Kali ini, gue memilih punya alasan yang memang gue rasakan sebagai warga Jakarta. Gue memilih pasangan tersebut nggak pakai alasan yang terlalu ngoyo sih sebenernya. Gue pilih mereka karena gue merasakan fasilitas yang diberikan dan melihat cara kerja Pak Ahok yang baru sampai di Balaikota sudah disambut beberapa warga Jakarta yang menyampaikan aduan langsung terkait dengan keluhan mereka. Gue melihatnya di Youtube. Ini hanya salah satu contohnya saja. Ada kelanjutannya juga kok. Klik di sini.

Ini adalah pertama kalinya gue melihat hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta sampai kayak begini. Terjerat kasus penistaan agama, kelompok agama yang menggelar aksi, tapi ada aja yang merendahkan profesi jurnalis saat menjalankan pekerjaannya. Sedih. Asli, sedih. Miris aja ngeliatnya. Beberapa tokoh inspiratif yang tadinya benar-benar mengispirasi anak muda, seperti salah satu standup comedian juga tiba-tiba berubah dan bikin artikel yang menurut gue dan beberapa netizen lain artikelnya menyesatkan nalar. Politik. Mana yang kuat, dia yang berkuasa. Gue ucapkan selamat untuk Gubernur DKI Jakarta terpilih. Gue harap teman-teman juga ikut mengawal program-program mereka yang pernah diusung saat kampanye dan semoga bisa terealisasikan dengan baik. Bagi yang memilih dengan alasan karena takut masuk neraka, coba diinget lagi, berapa banyak lo membantu, menghargai dan senyum terhadap orang lain dalam sehari?

Pak Ahok, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak. Bapak adalah pelayan (masyarakat) yang paling mengerti apa kebutuhan majikannya (masyarakat). Saya yakin, akan ada garis cerita baru di kemudian hari untuk berbuat baik pada orang banyak, Pak. Semoga Pak Ahok senantiasa sehat selalu dan tetap menjadi pribadi yang tegas, bijaksana dan adil dalam keluarga, maupun lingkungan sekitar.

Jakarta, 21 April 2017

Salam,

Mantan Majikan Pak Ahok

Advertisements

Goes To Bali! Halo, Tanah Lot!

Akhirnya, setelah sebulan lebih nggak posting konten blog, seperti biasa mood untuk menulis muncul di tengah malam. Sebenarnya ada beberapa konten yang ingin saya posting. Yang Aceh saja belum selesai. Tapi,  saya skip dulu cerita soal Aceh Saya selingi cerita waktu sayadi Bali, ya.

Jadi, akhir Januari lalu saya dan seluruh pegawai kantor melakukan outing ke Bali. Bener-bener pure outing dan nggak ada bumbu-bumbu pekerjaan. (Hihihi). Kami take off Jumat setelah subuh. Sepertinya saya nggak perlu mengulas harga tiket pesawat menuju ke sana kali ya. Saya percaya kalau kalian jauh lebih handal dalam mencari tiket pesawat yang super promo. Secara agen travel sekarang banyak yang menawarkan tiket promo Jakarta – Bali.

Pesawat kami landing di Ngurah Rai International Airport sekitar jam 8 pagi. Sesampainya di sana, kami langsung menuju destinasi pertama kami, yaitu Tanah Lot. Satu jam lebih kami menempuh perjalanan. Selama perjalanan, kami mencari masjid yang searah dengan Tanah Lot. Mungkin beberapa terlelap dalam perjalanan (termasuk saya), sehingga tidak ada yang sadar memantau keberadaan masjid. Saat kami sadar, ternyata masjidnya terlewat. Akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari masjid di sekitar sana.

Sampailah kami di area Tanah Lot. Kami mencoba mengunjungi pos polisi di sana untuk menanyakan keberadaan masjid, karena rekan kantor saya ingin menunaikan Sholat Jumat. Berharap akan ada masjid di sekitar Tanah Lot, ternyata masjidnya sudah terlewat jauh. Waktu pun juga tidak memungkinkan untuk kembali lagi ke desa yang terdapat masjid tersebut. Akhirnya, kami melanjutkan destinasi kami, namun tetap menunaikan Sholat Zuhur. Sorry, bukannya mau sok religius, menurut saya ini adalah bagian dari budaya di Bali bahwa memang kaum muslim di Bali minoritas dan masjid pun juga jarang di sana. Sekalinya ada, jaraknya pun tidak berdekatan satu sama lain. Namun, kalau mushola masih tersedia di area Tanah Lot.

Debur ombak di Tanah Lot

Duh, sorry ya ini intermezzo sampai tiga paragraf gini. Oke, saya akan membahas wisata Tanah Lot. Sebenarnya, Tanah Lot adalah destinasi wisata yang sangat mainstream untuk para wisatawan. Saya pun juga sudah pernah ke sini saat SMA. Bedanya, dulu nggak punya kamera untuk mengabadikan momen di sini. Kalau buat traveler, pasti udah khatam sama tempat ini.  Justru mereka lebih suka ke hidden place di Bali.

Tanah Lot memang bagus untuk berfoto. Di sana banyak yang bisa dijadikan objek foto, terutama human interest. Oiya, di sana juga ada Ular Suci (Holy Snake). Tepatnya berada di dalam gua. Kamu bisa melihatnya dan jangan lupa untuk menyisihkan uang di kotak pelestarian. Saya tidak melihat ke dalam, saya akui kalau saya takut ular.

Gua Ular Suci di Tanah Lot

Setelah banyak melakukan pemotretan di sana, kami melanjutkan perjalanan kami masih di hari yang sama. Tidak begitu banyak spot yang menarik. Justru saya lebih tertarik pada area jalan kios-kios di Tanah Lot. Cuaca hari itu panas. Jalan area kios dipayungi pepohonan yang rindang. Pancaran sinar matahari bikin efek yang bagus kalau dilihat. Dan satu lagi, saya lebih tertarik melihat orang Bali asli yang sedang memakai pakaian berwarna putih, sarung kotak-kotak dan udeng. Kebetulan mereka dengan keluarganya ingin melakukan sembahyang.

Salah satu keluarga asli Bali yang ingin sembahyang di Tanah Lot

 

Pura di Tanah Lot

Dari Tanah Lot, kami melanjutkan perjalanan ke Ulundanu, Bedugul. Puncaknya Bali kalau menurut saya. Karena kawasan tersebut berada di dataran tinggi. Mengenai Ulundanu, akan saya posting pada tulisan berikutnya. Happy reading!

Rindu

Rinduku yang terpendam memakan waktu, tidak disangka terobati malam ini. Di kedai kopi sederhana, melalui ketidaksengajaan aku melihat sosok yang kurindu. Ku yakinkan bahwa itu kamu, rindu. Ku yakinkan kembali seruput demi seruput kopi yang ku pesan. Ya, aku semakin yakin bahwa itu kamu. Aku terlalu naif dan pengecut. Tak berani ku tatap mata rindu. Meski sesekali ku sempatkan ekor mataku melirik ke arahmu untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Hingga akhirnya ku beranikan diri untuk menyapamu melalui pesan singkat saat kamu beranjak dari kedai kopi itu.

Ku pastikan bahwa aku sedang merindu. Ya, aku rindu. Mana mungkin dalam seminggu kamu hadir dalam buah tidurku sebanyak dua kali? Seperti sedang mengonsumsi resep dokter. Aku berharap itu hanya ketidaksengajaan Tuhan. Namun, ketidaksengajaann-Nya saja membuat hati ini rindu padamu. Atas ketidaksengajaan itu pula Tuhan menjawab akhir dari kerinduan ini.

Terima kasih, Tuhan… Rinduku terbayar.

 

Jakarta, 3 Maret 2017

Filosofi Kopi

 

Cerita di Kedai Kopi Solong Ulee Kareng

Di postingan sebelumnya saya udah janji mau cerita sedikit soal kopi Aceh. Kalau kamu ketik keyword kopi Aceh di Google, pasti akan muncul berbagai artikel mengenai kopi Aceh. Julukan Aceh sebagai ‘Kota Seribu Kopi’ menurut saya sih benar banget! Ya, karena saya sendiri pun melihat kalau kopi Aceh itu banyak banget brand-nya.

Tapi, ada satu kopi yang menarik perhatian saya, yaitu Kopi Solong Ulee Kareng. Saya memang nggak begitu paham dengan jenis-jenis kopi secara detail, saya hanya penikmat kopi biasa yang mengagumi cita rasanya. Hehehehe… Baiklah, saya akan mengulas mengenai Kopi Solong. Selesai makan dari Mie Aceh Razali, kami ingin mencari kedai kopi favorit bagi masyarakat Aceh. Pilihan jatuh ke Kedai Kopi Solong di daerah Ulee Kareng. Kedai kopi tersebut selalu ramai pengunjung.

Sample biji kopiarabica premium di Kedai Kopi Solong

Sample biji kopi arabica premium di Kedai Kopi Solong

Seingat saya, waktu itu saya memesan kopi arabica. Sebenarnya masih banyak pilihan lain. Semua kopi yang disajikan di Kedai Kopi Solong ini adalah biji kopi olahan sendiri. Jadi, mulai memetik, memilih, roasting, dan sebagainya adalah pure bikinan sendiri. Sambil menunggu pesanan kami datang, saya mencicipi hidangan roti isi selai srikaya buatan kedai tersebut. Asli, roti srikaya ter-enak yang pernah saya rasakan! Rotinya lembut sekali, selai srikayanya pun sangat lembut dan tidak terlalu manis selainya. Ah, enak sekali!

Akhirnya, kopi pesanan kami pun datang. Secangkir kopi hitam panas yang tidak terlalu manis dan tanpa ampas tersebut ku seruput dengan nikmat. Tidak lupa ditemani dengan roti srikaya untuk porsi kedua. Maaf, tidak bermaksud untuk rakus, hanya ketagihan. Hehehehe… Kopi Solong benar-benar tidak ada ampas sedikit pun. Bagaimana tidak, kopinya saja dibuat dengan disaring hingga beberapa tarikan. Oiya, saya mengunjungi ke Kedai Kopi Solong Ulee Kareng sampai dua kali saking enaknya. Tetap ramai pengunjung dari berbagai kalangan. Kunjungan yang kedua, saya bertemu dengan pemiliknya, Pak Nawawi namanya dan kami sempat ngobrol-ngobrol sedikit tentang Kopi Solong.

(kiri) Teman saya, Pak Nawawi dan saya di Kedai Kopi Solong

(kiri) Teman saya, Pak Nawawi dan saya di Kedai Kopi Solong

Jadi, Kopi Solong merupakan warisan turun-temurun berawal dari warung biasa sejak tahun 1976 dan berkembang sejak 1982. Karena lokasinya memang dekat dengan kampus, jadi banyak para pelajar yang pulang kuliah untuk mampir ke kedai kopi. Kopi Solong memang terkenal enak karena biji kopi pilihannya. Diakui oleh sang pemilik Kedai Kopi Solong bahwa tidak diragukan karena sang bapak adalah petani. Maka, tidak heran jika biji kopi yang dipilih sangatlah tepat. Nama Solong pun sebenarnya adalah nama panggilan sang ayah ketika bekerja dengan orang China.

Jadi, memang tidak dipungkiri bahwa Kopi Solong memang enak. Di kedai ternyata tidak hanya menjual kopi yang diseduh, melainkan juga menjual biji kopi dan kopi roasted produk Kopi Solong. Kalau tidak salah untuk harga Kopi Solong yang Robusta 250 gram sekitar Rp 27 ribu – Rp 35 ribu (saya lupa). Untuk jenis kopi arabica premium 250 gram seharga Rp 70 ribu. Saya beli keduanya untuk oleh-oleh di rumah. Oiya, untuk harga menu di Kedai Kopi Solong juga tidak mahal. Harga kopi dibanderol mulai dari sekitar Rp 7 ribu.

Peracik kopi di Kedai Kopi Solong

Peracik kopi di Kedai Kopi Solong

Menurut saya, kalau kalian pergi ke Banda Aceh jangan lupa untuk mencicipi cita rasa kopi Aceh ya! Di mana pun kedainya. Tapi, berhubung saya mencicipinya di Kedai Kopi Solong Ulee Kareng sampai dua kali, jadi saya rekomendasikan bagi para traveler penikmat kopi untuk mencicipinya. Karena, kopinya sudah terkenal dan beberapa public figure pun sempat mampir ke kedai tersebut.

Oiya, dengar-dengar beberapa biji kopi Aceh ada yang dibawa ke Medan dan dijual di sana. Kopi Sidikalang beberapa diantaranya dibuat dari biji kopi Aceh. Apakah itu benar? Mungkin jika kalian ada yang tahu kebenarannya bisa share di kolom komentar ya…

 

Happy reading, all!

 

Pertama Kali Makan Mie Aceh dan Ketagihan!

Setelah sebelumnya saya cerita tentang makanan khas Aceh di Rumah Makan Hasan, saya mau intermezzo sedikit mengenai perjalanan setelah makan siang dari tempat tersebut. Di jalan, saya masih bisa ngobrol sambil tertawa saat menuju hotel. Namun, tidak lama saya mendapati pesan singkat melalui Blackberry Messenger yang mengatakan bahwa saudara saya telah tiada. Masih tidak menyangka, ternyata beberapa bulan sebelumnya adalah pertemuan terakhir kami dan beberapa minggu lalu adalah percakapan terakhir via Facebook. Ia meninggal pasca melahirkan anak ketiganya. Saya tidak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya karena masih bertugas di Aceh. Hanya bisa mengirimkan doa semoga dilapangkan tempat di sana.

Baiklah, saya sudahi intermezzonya. Kali ini saya masih ingin bercerita seputar kuliner di Aceh. Sesampainya di penginapan, kami beristirahat untuk beberapa jam. Setelah itu, kami pergi keluar untuk menikmati kuliner malam di Banda Aceh. Kami putuskan untuk mencicipi kuliner yang juga salah satu ‘You Must Try It’ di Banda Aceh, yaitu Mie Aceh Razali. Baru parkir mobil saja sudah terlihat ramainya rumah makan tersebut. Bagaimana tidak, Mie Aceh Razali dikenal karena memiliki cita rasa yang khas turun-temurun. Bahkan, teman saya yang asli Aceh sampai cerita bahwa tantenya jika berkunjung ke Aceh selalu membeli bumbu mie Aceh tersebut, lho!

Mie Razali di Peunayong, Banda Aceh

Mie Razali di Peunayong, Banda Aceh

Ternyata kata ‘enak’ yang diungkapkan oleh para food blogger tentang Mie Aceh Razali memang tidak mengada-ngada. Benar-benar enak! Seingat saya, waktu itu saya memesan mie Aceh seafood cumi. Rasanya enak, porsinya lumayan besar dan harganya pun terjangkau! Rasa rempahnya melekat pada bumbu mie Aceh. Tidak heran kalau Mie Aceh Razali tidak pernah sepi pengunjung. Setahu saya, Mie Aceh Razali ini hanya ada dua outlet saja dan hanya ada di Banda Aceh. Waktu itu saya mencicipinya yang berada di Peunayong, Banda Aceh. Selain masakannya yang enak, yang paling penting adalah pelayanannya yang begitu ramah dan cepat.

Mie Razali seafood cumi

Mie Razali seafood cumi

Jujur, ini adalah pertama kalinya saya mencicipi mie Aceh langsung dari Aceh. Sejak mencicipinya, saya jadi suka dengan mie Aceh. Biasanya kalau saya lagi kangen mie Aceh, saya makan di dekat rumah, yaitu di Mie Aceh Cut Putroe Radio Dalam atau di Mie Aceh Jali Jali di terminal Blok M. Soal rasa memang jauh berbeda, tapi lumayanlah untuk mengobati rasa rindu di Tanah Rencong. Berbicara mengenai kuliner khas Aceh memang tidak jauh-jauh dari bumbu rempah dan minyak. Sampai saya berpikir pulang-pulang dari Aceh bisa kolesterol nih karena terlalu menikmati hidangan Aceh. Hehehehe… Tapi, kamu emang benar-benar harus mencicipi kuliner khas daerah yang kamu kunjungi, lho!

Oiya, selain makanannya yang khas, Aceh juga dikenal sebagai kota seribu jenis kopi. Saya akan bercerita sedikit soal kopi Aceh. Tapi, sabar dulu ya! Saya akan membahas soal kopi Aceh pada postingan berikutnya!

Happy reading, all!

 

(Baca juga : Cerita di Kedai Kopi Solong Ulee Kareng)

Masakan Khas Aceh di Rumah Makan Hasan

Setelah panjang lebar menulis intro tentang cerita pengalaman perjalanan di Aceh, melalui tulisan ini akan saya mulai dengan mencicipi kuliner khas Aceh di Rumah Makan Hasan. Saya, teman saya dan klien saya rehat sejenak setelah melakukan wawancara di Dinas Perhubungan Banda Aceh. Saat jam makan siang, kami diajak ke tempat makan tersebut oleh Pak Faisal (Kabid Perhubungan Laut Banda Aceh).

Saya tahu rumah makan tersebut dari beberapa situs blog yang saya baca sebelum berangkat ke Aceh. Rumah Makan Hasan adalah salah satu kuliner yang ‘You Must Try It’ di Banda Aceh. Saya lupa nama-nama menu yang dipesan. Yang jelas, cara penyajian makanannya tidak jauh berbeda ketika kita makan di rumah makan Padang. Semua makanan disajikan di meja, kita tinggal pilih lauk mana yang ingin disantap. Kesannya? Menggoda! Meski ada rasa cemas karena melihat racikan bumbu yang terbayang adalah kolesterol. Sebenarnya, kalau melihat masakan Aceh memang tidak jauh-jauh dengan rasa rempah, pedas, dan minyak. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa masakan Aceh hampir serupa dengan sajian masakan Padang.

dsc_0309

Masakan Khas Aceh di Rumah Makan Hasan

Waktu itu yang disajikan di meja ada gulai kambing, gulai ikan, ayam tangkap, gulai pisang (What?! Pisang? Digulai?) sajian ikan, sambal, sayuran seperti urap, dan sebagainya. Maaf kalau saya lupa mencatat nama-nama masakannya. Saya tidak asing dengan menu ayam tangkap, karena di Jakarta pun ada. Namun, sayangnya saya tahu nama, tapi tidak tahu bentuknya. So, for the first time i saw ayam tangkap in Rumah Makan Hasan. Ternyata, ayam tangkap adalah ayam goreng yang disajikan dengan daun (saya lupa namanya daun apa) yang digoreng pula sehingga kalau dimakan mengeluarkan irama krenyes-krenyes.

Aneka menu di Rumah Makan Hasan

Aneka menu di Rumah Makan Hasan

Setelah mencicipi, saya bertanya “Pak, kenapa ayam tangkap? Kenapa, Pak? Dan banyak dedaunan gini? Apanya yang ditangkap, Pak?”, tanya saya. Tak lama, Pak Jufri driver sewaan kami pun menjawab, “Ayam ini sengaja disajikan dengan dedaunan dan tidak terlihat ayamnya. Sehingga, kita mencari ayamnya. Kalau ketemu, ditangkap deh… Hap!,” jawabnya. (What the?!) But, it’s ok! Mungkin, kalian punya cerita lain tentang asal-muasal atau mitos dari nama kuliner ayam tangkap ini?

dsc_0306

Ayam Tangkap di Rumah Makan Hasan

Tapi yang pasti, kalian wajib mampir ke Rumah Makan Hasan kalau traveling ke Banda Aceh. Mungkin makanan unik lainnya menurut saya adalah gulai pisang. Aneh sih waktu dikasih tahu kalau itu adalah gulai pisang. Dan pisangnya pun nggak terlihat seperti potongan pisang. Kata klien saya yang mencicipinya terlebih dahulu sih enak. Lalu, saya pun disuruh mencicipinya, meski nggak akan kebayang gimana rasanya. Tapi, saya tetap penasaran dengan cita rasa gulai pisang tersebut. Demi apapun, alhasil saya mencicipinya. Dan……. Teksturnya seperti pisang rebus. Bedanya, ini jauh lebih gurih karena menggunakan adonan gulai. Hmm… Not bad! Meskipun saya hanya sekali makan gulai pisangnya.

Setelah makan menu utama, kami disuguhkan potongan buah-buahan. Uniknya, di piring buah-buahan tersebut dicampur dengan es batu. Hmm… Mungkin hal itu dilakukan supaya buah tetap segar. Untuk minumannya, saya memesan es teh manis. Namun, orang Aceh lebih suka menyebutnya teh dingin. Entah, mungkin karena ingin lebih singkat. Hehehehe…

Sebelum berpisah, kami foto bersama dengan Pak Faisal karena sudah menjamu dengan kami

Sebelum berpisah, kami foto bersama dengan Pak Faisal

Oiya, cerita tentang perjalanan di Aceh masih berlanjut di postingan berikutnya, ya! Semoga dari postingan ini dapat memberikan informasi bagi para pembaca. Happy reading, all!

Cerita Aceh Kota Religi

Halo, Indonesia! Setelah sekian lama saya tidak memanfaatkan dengan efektif blog saya ini, maka saya putuskan mulai hari ini saya aktifkan kembali blog saya dengan konten cerita perjalanan dan kehidupan. Okay, saya akan mengawalinya dengan cerita perjalanan saya saat pertama kali terbang dengan pesawat.

Mungkin terdengar norak, tapi April lalu saya bersyukur ketika ditugaskan oleh kantor saya untuk melakukan peliputan ke daerah paling ujung bagian Indonesia. Ya, Aceh dan Sabang! Pertama, saya bisa merasakan naik pesawat. Kedua, perjalanan tersebut merupakan perjalanan terjauh yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya. Tapi, saya ke sana tidak sendiri dan bukan untuk traveling sepenuhnya. Saya harus melaksanakan tugas ke beberapa tujuan untuk mencari informasi mengenai transportasi yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Tentu saja, saya ke sana bersama dengan salah satu teman kerja saya dan klien dari Kemenhub.

Hal ini adalah bagian yang paling saya suka menjadi seorang jurnalis. Jalan-jalan! Percaya atau tidak, dari dulu saya memang bercita-cita untuk menjadi seorang jurnalis karena ingin jalan-jalan keliling Indonesia dan dunia. Paling tidak, saya bisa mencicipi kawasan Indonesia terlebih dahulu sebelum ‘Dewi Fortuna’ berpihak pada saya untuk menikmati budaya luar.

Di blog ini, sebisa mungkin saya tidak bercerita banyak mengenai detail sistem transportasi di Aceh. Saya ingin bercerita seputar tempat-tempat wisata, kuliner dan budaya di sana. Terlalu serius sepertinya untuk bercerita seputar otonomi daerah. Hehehehe… Tetapi akan saya ulas sedikit mengenai transportasi khas di sana.

Sebelum menapaki tanah rencong (Aceh), yang ada di pikiran saya adalah sebuah provinsi yang sangat religius sekali, memiliki cuaca yang panas, dan Pulau Weh yang indah! Ah, sempat deg-degan saya ketika ditugaskan ke sana. Deg-degan bukan perkara pertama kali naik pesawat, melainkan ketika saya searching seputar budaya di sana yang begitu kental agama Islamnya, hingga ada salah satu aturan kalau ke sana tidak boleh menggunakan celana jeans. Iya, celana jeans! Pakai baju harus panjang, dan sebagainya. Karena, di sana ternyata ada razia pakaian untuk kaum wanita. Ini unik menurut saya. Saya yang berhijab pun mungkin bisa dihitung berapa pakaian panjang yang saya miliki.

Dari packing, yang saya pikirkan hanyalah “Pakai baju yang mana yah???”. Itu saja yang saya pikirkan. Alhasil, saya bawa beberapa jaket parka saya yang lumayan tebal (bisa kebayang gerahnya) hehehe… Hmm baiklah, intinya dengan adanya peraturan seperti itu merupakan salah satu hal yang unik di Aceh yang notabene adalah kota religius. Sebenarnya, kalau melihat destinasi wisata di Banda Aceh memang rata-rata tempat wisatanya cenderung baru pasca terjadinya musibah tsunami. Sebut saja Museum Tsunami Aceh, Boat Gampong Lampulo, PLTD Apung, dan sebagainya.

Oiya, sampai lupa. Kesan pertama lainnya ketika menginjakkan kaki di Aceh adalah merinding. Ya, merinding karena membayangkan kembali peristiwa beberapa belas tahun silam, dimana satu kota terendam air lumpur dari pantai, tsunami. Apalagi mendengar cerita dari driver kami, Pak Jufri yang menceritakan beberapa kisah kejadian tsunami dan perubahan kota pasca tsunami. Selain itu, Pak Jufri juga menceritakan cerita tentang hotel yang kami inap, yaitu Hotel Gr*nd Perm*t* H*ti, Banda Aceh. Memang bangunannya baru. Namun, cerita yang saya dengar, hotel tersebut tadinya bekas rumah sakit. Dan, pada peristiwa tsunami terjadi, banyak korban yang tidak selamat dijejerkan di depan hotel tersebut. Merinding. Merinding ketika membayangkannya. Satu kota menangis. Ada yang mencari keluarganya, ada yang mendapati keluarga tanpa nyawa, miris.

Ah sudahlah, saya tidak ingin membuat kalian teriris-iris membaca tulisan dengan penuh kesedihan. Tapi, saya akan mengajak para pembaca blog saya untuk bangga dengan Indonesia! (lalu suara riuh tepuk tangan beriringan). Guys, ini hanya intro dari cerita saya tentang Aceh, tapi hampir dua lembar di Ms. Words. Baiklah, saya akan mulai bercerita tentang destinasi wisata di Banda Aceh, tapi di postingan selanjutnya! Hehehehe…

 

(To be continued)